Gue sering dapat DM dari teman-teman pemilik usaha kecil yang lagi galau. Usahanya jalan, tapi belum gede-gede amat. Di sisi lain, ada tawaran kerja atau panggilan interview yang datang. Nah, di titik inilah pertanyaan besarnya muncul: lanjut punya usaha sendiri atau balik jadi karyawan?
Dulu gue juga pernah di posisi ini. Punya warung kopi kecil yang lumayan ramai di akhir pekan, tapi sepi di hari kerja. Dompet kadang tebal, kadang tipis. Sampai akhirnya ada perusahaan yang ngajak interview. Rasanya campur aduk — antara excited dan merasa kayak "mau ngapain lagi sih, usaha udah ada?"
Kalau kamu sekarang ada di fase itu, artikel ini buat kamu. Gue mau bantu kamu mikir langkah demi langkah, bukan cuma bilang "ikutin hati". Karena hati itu penting, tapi rekening juga penting.
Langkah 1: Hitung Dulu Kondisi Usahamu Secara Jujur
Sebelum mikir soal kerja kantoran, coba hitung dulu kondisi usahamu. Bukan cuma omzet, tapi laba bersih yang benar-benar masuk kantong tiap bulan. Banyak pemilik usaha kecil terjebak sama angka omzet yang kelihatan gede, padahal setelah dipotong bahan baku, sewa, dan gaji karyawan, sisanya tipis.
Gue pernah ngobrol sama pemilik toko kue rumahan. Omzetnya 30 juta sebulan, kelihatan wow. Tapi setelah dihitung, laba bersihnya cuma 4 juta. Nah, kalau ada tawaran kerja dengan gaji 7 juta plus benefit, ya wajar dia goyah.
Coba jawab tiga pertanyaan ini:
- Berapa laba bersih usaha kamu rata-rata 3 bulan terakhir?
- Apakah angka itu stabil atau naik-turun ekstrem?
- Kalau kamu ambil kerja, siapa yang jaga usaha? Ada orang yang bisa dipercaya?
Kalau jawabannya bikin kamu ragu, itu sinyal bagus. Artinya kamu realistis, bukan cuma ikut ego.
Langkah 2: Kenali Alasan Kamu Mau Kerja Lagi
Ini bagian yang sering dilewati. Orang langsung mikir "kerja atau usaha" tanpa nanya kenapa. Padahal alasannya beda-beda, dan itu ngaruh banget ke keputusan.
Alasan yang sehat vs alasan yang perlu diwaspadai
Alasan sehat misalnya: kamu butuh pemasukan stabil karena usaha masih naik-turun, kamu mau belajar sistem kerja profesional buat diterapin di usaha sendiri, atau kamu butuh jaringan baru. Alasan kayak gini justru bisa bikin usaha kamu makin kuat.
Yang perlu diwaspadai: kamu pengen kerja cuma karena capek ngurus usaha, atau karena iri lihat teman-teman kantoran yang gajian tetap. Capek itu wajar, tapi jangan sampai keputusan besar diambil pas lagi burnout. Nanti nyesel.
Usaha yang lagi susah bukan berarti usaha yang gagal. Kadang cuma butuh waktu, atau butuh kamu belajar hal baru dari luar.
Langkah 3: Siapkan Diri Kalau Memang Mau Ikut Interview
Nah, kalau kamu memutuskan buat coba interview, ini yang sering bikin pemilik usaha kecil gugup. Kamu udah lama nggak interview, tiba-tiba ditanya "kenapa sekarang mau kerja kantoran padahal punya usaha?"
Jawaban jujur itu penting, tapi tetap harus dikemas rapi. Jangan bilang "usaha saya sepi" mentah-mentah. Coba framing begini: "Saya punya usaha kecil yang masih saya kembangkan, dan saya ingin menambah pengalaman di lingkungan kerja profesional supaya bisa membawa perspektif baru."
Beberapa hal praktis yang perlu kamu siapin:
- Cerita soal usahamu — tunjukin kalau kamu punya jiwa tanggung jawab dan bisa mandiri
- Jawaban soal komitmen — perusahaan pasti khawatir kamu bakal balik ke usaha. Yakinkan mereka kamu serius
- Rencana pembagian waktu — kalau usahamu tetap jalan, jelasin siapa yang pegang operasional harian
- CV yang relevan — tonjolin skill dari usaha kamu, kayak manajemen, negosiasi, atau marketing
Gue pernah lihat teman pemilik laundry yang interview-nya lancar banget karena dia cerita soal gimana dia ngatur 3 karyawan dan ngurus komplain pelanggan. Recruiter-nya malah kagum. Jadi jangan minder sama status "pemilik usaha kecil" — itu justru nilai plus.
Langkah 4: Bandingkan Skenario, Bukan Cuma Gaji vs Laba
Ini kesalahan paling umum. Orang cuma bandingin gaji karyawan sama laba usaha. Padahal yang perlu dibandingin lebih luas dari itu.
Kalau kamu jadi karyawan: ada gaji tetap, BPJS, mungkin tunjangan, tapi waktu kamu terikat dan usaha harus diurus orang lain atau ditinggal sementara. Kalau kamu fokus usaha: waktu lebih fleksibel, potensi cuan nggak ada batas, tapi pemasukan nggak pasti dan risiko ditanggung sendiri.
Coba bikin dua kolom di kertas. Kiri "kalau jadi karyawan", kanan "kalau fokus usaha". Isi bukan cuma soal uang, tapi juga waktu bareng keluarga, stres, kebebasan, dan rencana jangka panjang. Jujur sama diri sendiri. Kalau perlu, diskusi sama pasangan atau orang yang paling kenal kamu.
Dan ingat, ini nggak harus hitam-putih. Banyak pemilik usaha kecil yang akhirnya ambil kerja part-time atau proyek lepas sambil tetap jalanin usaha. Fleksibel, kok.
Langkah 5: Kasih Tenggat Waktu buat Keputusan
Jangan biarin kamu galau berbulan-bulan. Itu capek dan bikin usaha ikut nggak fokus. Kasih diri kamu tenggat, misalnya dua minggu atau sebulan, buat ngumpulin info dan mutusin.
Selama periode itu, lakuin riset beneran. Tanya teman yang udah kerja kantoran soal suka-dukanya. Tanya juga sesama pemilik usaha yang udah lewatin fase ini. Kadang jawaban yang kita cari justru datang dari orang yang udah ngalamin.
Yang paling penting: keputusan kamu nggak harus permanen. Kalau ternyata salah, kamu bisa berhenti kerja dan balik fokus usaha, atau sebaliknya. Dunia kerja sekarang jauh lebih fleksibel dibanding zaman orang tua kita. Jadi jangan takut sama pilihan yang kamu ambil — takutlah sama nggak ambil keputusan sama sekali.
Pada akhirnya, nggak ada jawaban yang benar buat semua orang. Ada pemilik usaha yang malah makin sukses setelah punya kerja sampingan karena dapet modal dan jaringan. Ada juga yang justru balik fokus usaha dan berkembang pesat. Yang penting, kamu ambil keputusan dengan kepala dingin, bukan karena panik atau ikut-ikutan.
Kalau kamu lagi di fase ini, santai aja. Galau itu tanda kamu mikir. Yang nggak boleh itu diam di tempat tanpa langkah apa-apa. Yuk, mulai dari langkah pertama tadi — hitung usahamu dulu malam ini.