Gue masih inget banget waktu pertama kali ikut wawancara kerja di kota kecamatan. Datang paling pagi, kemeja disetrika sampai licin, sepatu pinjam punya kakak. Rasanya udah paling siap sedunia. Tapi begitu duduk di depan pewawancara, otak gue blank. Pertanyaan sederhana soal diri sendiri aja gue jawab ngelantur ke mana-mana.
Hasilnya? Tentu aja nggak dipanggil lagi. Dan itu nggak cuma sekali. Ada masa di mana gue ngirim lamaran ke mana-mana, interview belasan kali, tapi selalu gagal di tahap yang sama. Lama-lama gue sadar, masalahnya bukan di CV atau ijazah. Masalahnya ada di cara gue menghadapi wawancara itu sendiri.
Baca juga: Siapkan 3 Jawaban Ini Sebelum Interview Pertamamu
Nah, dari pengalaman gagal berkali-kali itulah gue mau cerita. Buat kamu yang tinggal di kota kecil atau desa, yang mungkin akses info soal dunia kerja masih terbatas, ini beberapa kesalahan yang sering banget kejadian. Gue sendiri pelakunya, kok.
Sok Tahu Semua Soal Perusahaan, Padahal Nggak Cek Apa-Apa
Ini kesalahan pertama dan paling memalukan yang pernah gue lakuin. Waktu itu gue interview di sebuah toko bangunan besar. Pewawancara nanya, "Kamu tahu nggak kami jual apa aja?" Gue dengan pede jawab, "Ya jual bahan bangunan, Pak." Dia cuma senyum. Ternyata toko itu juga nyediain jasa renovasi dan kontraktor. Gue nggak tahu sama sekali karena nggak baca profilnya.
Masalahnya, banyak dari kita yang mikir riset perusahaan itu cuma buat anak-anak kota yang kerja di kantor keren. Padahal nggak gitu. Mau kamu melamar jadi kasir, sopir, atau admin di kecamatan, tetap wajib tahu usaha apa yang kamu masuki.
Cara menghindarinya gampang kok:
- Cek dulu media sosial atau papan nama usahanya, mereka jualan apa aja.
- Tanya tetangga atau kenalan yang pernah belanja di sana.
- Kalau ada brosur atau spanduk, baca sampai habis.
- Siapin satu pertanyaan buat pewawancara, minimal soal jam kerja atau tugas harian.
Percaya deh, pewawancara itu gampang banget nebak mana pelamar yang serius dan mana yang asal coba-coba. Cukup dari satu pertanyaan simpel.
Jawaban Klise yang Kedengeran Kayak Hafalan
Kedua, soal jawaban. Gue dulu punya satu jawaban andalan buat pertanyaan "Apa kelebihan kamu?" Jawabannya: "Saya pekerja keras, jujur, dan bisa bekerja dalam tim." Setiap interview, itu terus yang gue ucapin. Sampai suatu hari pewawancara nyeletuk, "Semua orang juga bilang gitu. Ada contohnya nggak?"
Gue diem. Nggak punya contoh apa-apa.
Nah, ini yang sering kelewat. Orang di kampung kayak kita kadang mikir wawancara itu soal jawab benar-salah. Padahal intinya adalah bikin pewawancara percaya sama kita. Dan kepercayaan itu datang dari cerita nyata, bukan kata-kata bagus.
Jawaban tanpa contoh itu kayak jualan tanpa barang. Kedengeran meyakinkan, tapi kosong.
Mulai sekarang, coba siapin satu cerita pendek buat tiap kelebihan yang kamu sebut. Misalnya kamu bilang teliti, ceritain waktu kamu pernah ngecek ulang catatan stok dan nemu selisih yang orang lain lewatin. Kecil-kecilan nggak apa-apa. Yang penting nyata.
Jangan Ceritain Semua Hal Buruk Soal Tempat Kerja Lama
Ini masuk ke kesalahan ketiga yang sering banget gue temuin, bahkan sampai sekarang. Ditanya "Kenapa berhenti dari kerjaan sebelumnya?", banyak orang langsung nyerocos soal bos yang galak, gaji telat, atau rekan kerja yang nyebelin.
Gue ngerti, kadang itu semua beneran terjadi. Tapi di ruang wawancara, cerita kayak gitu bikin pewawancara mikir: "Nanti dia juga bakal ngomongin kita kayak gini di tempat lain."
Solusinya, bikin jawaban yang jujur tapi tetap aman. Fokus ke alasan yang netral, misalnya ingin cari pengalaman baru, ingin lebih dekat dengan keluarga, atau ingin belajar bidang yang berbeda. Kalau memang ada masalah serius di tempat lama, simpan buat diri sendiri aja. Wawancara bukan tempat curhat.
Datang Terlalu Percaya Diri Sampai Lupa Etika Dasar
Pernah nggak kamu lihat orang interview pakai sandal jepit dan kaos oblong? Gue pernah, dan sedihnya gue pernah jadi orang itu. Waktu itu gue mikir, "Yang penting kan kemampuan." Ternyata penampilan itu kesan pertama, dan kesan pertama susah banget dibenerin.
Bukan berarti kamu harus beli jas mahal. Nggak sama sekali. Tapi minimal, pakai baju yang rapi, bersih, dan nggak kusut. Kalau nggak punya kemeja, kaos polos berkerah juga cukup. Yang penting kelihatan menghargai diri sendiri dan orang yang nginterview.
Selain penampilan, ada hal kecil lain yang sering dilupakan:
- Datang telat karena nggak ngitung waktu tempuh dari kampung.
- Nggak bawa berkas cadangan, padahal diminta bawa fotokopi KTP dan ijazah.
- Main HP sambil nunggu giliran, kadang sampai lupa dipanggil.
- Nggak bilang terima kasih atau nggak nanya kabar saat masuk ruangan.
Kelihatan sepele, tapi justru hal-hal kecil inilah yang sering bikin pelamar gugur sebelum sempat menunjukkan kemampuan. Gue dulu pernah telat 15 menit karena nunggu angkot yang nggak lewat. Sejak itu, gue selalu berangkat minimal satu jam lebih awal. Lebih baik nunggu lama di luar daripada telat satu menit.
Nggak Siap Ditanya Soal Gaji dan Malah Asal Sebut Angka
Ini kesalahan yang paling sering bikin gue nyesel. Waktu itu ditanya ekspektasi gaji, gue jawab angka yang asal comot dari omongan teman. Ternyata angkanya jauh di atas standar, dan pewawancara langsung kelihatan nggak tertarik lagi.
Di sisi lain, ada juga yang jawab, "Terserah Bapak aja." Itu juga nggak bagus, karena kelihatan nggak menghargai kemampuan sendiri.
Cara amannya, cari tahu dulu kisaran gaji untuk posisi itu. Tanya kenalan yang kerja di bidang serupa, atau lihat lowongan lain yang mencantumkan nominal. Kalau nggak ada info sama sekali, jawab dengan rentang, bukan angka mati. Misalnya, "Untuk posisi ini saya berharap di kisaran sekian sampai sekian, tapi saya terbuka untuk diskusi."
Ingat, negosiasi gaji itu bukan soal menang atau kalah. Ini soal memastikan kamu dan perusahaan sama-sama nyaman.
Yang Paling Penting: Jangan Anggap Wawancara Sebagai Ujian Sekolah
Dari semua kesalahan di atas, akar masalahnya satu: kita sering menganggap wawancara itu seperti ujian yang harus dijawab benar semua. Padahal sebenarnya ini lebih mirip obrolan buat cek apakah kamu cocok dengan mereka, dan mereka cocok dengan kamu.
Kalau kamu tinggal di kota kecil atau desa, mungkin akses ke pelatihan interview memang terbatas. Tapi bukan berarti kamu nggak bisa siap. Latihan di depan cermin, rekam suara sendiri pakai HP, atau minta teman jadi pewawancara palsu. Itu semua gratis dan bisa dilakukan kapan aja.
Gue dulu juga nggak punya siapa-siapa yang ngajarin. Semua gue pelajari dari gagal berkali-kali. Dan kalau gue bisa lewat, kamu juga bisa. Yang penting jangan berhenti nyoba, dan jangan malu belajar dari kesalahan sendiri.
Wawancara itu skill, bukan bakat. Dan skill selalu bisa dilatih.