Gue ingat banget momen itu. Tahun 2018, gue duduk di ruang tunggu sebuah kantor di kota provinsi, memegang map berisi CV yang udah gue print bolak-balik karena takut salah format. Di sebelah gue, ada dua orang yang ngobrol santai soal kampus mereka, sebut-sebut nama universitas yang gue cuma bisa dengar di iklan televisi. Sementara gue? Lulusan SMA di kecamatan, kerja serabutan dulu jadi penjaga toko, baru kemudian kuliah di kampus kecil yang namanya bahkan sering salah diucapkan orang.
Waktu itu, gue ngerasa kalah sebelum perang. Rasanya kayak mau pulang aja, naik bus empat jam balik ke rumah, dan nggak usah ikut wawancara. Tapi gue bertahan. Dan dari situlah gue belajar satu hal besar: latar belakang bukan penentu, cara kamu bercerita yang menentukan.
Baca juga: Siapkan 3 Jawaban Ini Sebelum Interview Pertamamu
Wawancara Pertama: Minder Setengah Mati
Pewawancaranya orangnya kalem, pakai kemeja rapi, dan ngomongnya cepet. Gue dengerin sambil manggut-manggut, padahal setengah isinya gue nggak nangkep. Dia nanya soal pengalaman organisasi. Gue jawab seadanya, cerita jadi bendahara karang taruna. Dia nanya soal kemampuan teknis. Gue jawab, "Belum pernah coba, tapi kayaknya bisa dipelajari."
Jawaban-jawaban gue waktu itu terlalu jujur sampai terdengar kayak nggak siap. Padahal, kalau dipikir lagi, jadi bendahara karang taruna itu bukan hal kecil. Gue ngurus dana 17-an, bikin laporan, dan sempat berantem sama ketua RT gara-gara anggaran konsumsi. Itu pengalaman nyata. Tapi gue nggak bisa mengemasnya jadi cerita yang menarik.
Hasilnya? Tentunya nggak lolos. Tapi bukan itu yang bikin gue sakit hati. Yang bikin gue sakit hati adalah perasaan bahwa gue kalah bukan karena kurang mampu, tapi karena gue sendiri yang menganggap diri gue kurang.
"Anak kampung sering kalah bukan di ruang wawancara, tapi di kepala sendiri sebelum masuk ruangan."
Anak Rantau vs Anak Kampung: Bedanya di Kebiasaan
Gue sempat kerja di kota besar beberapa tahun, dan di situ gue ketemu banyak orang. Ada yang memang dari kota, ada juga yang sama kayak gue, anak rantau dari daerah. Dari pergaulan itu, gue mulai lihat pola yang cukup jelas.
Yang Biasanya Dikuasai Anak Rantau
Mereka yang udah biasa merantau sejak kuliah biasanya lebih luwes soal adaptasi. Mereka udah terbiasa ngurus kos, cari makan sendiri, dan berurusan dengan orang asing. Di wawancara, mereka cenderung lebih santai dan nggak terlalu grogi. Tapi bukan berarti mereka otomatis lebih baik.
Yang Sering Jadi Kekuatan Anak Kampung
Nah, ini yang sering diabaikan. Anak yang tumbuh di kampung biasanya punya pengalaman yang lebih "nyata" soal kerja keras. Banyak dari kita udah bantu orang tua di sawah, jaga warung, atau ngangkut barang sebelum lulus SMA. Itu bukan hal sepele di mata perekrut yang jeli. Masalahnya, kita sendiri sering menganggap itu bukan pengalaman.
Gue pernah wawancara seseorang asal desa di Jawa Tengah. Dia cerita kalau dulu bantu ibunya jualan sayur keliling. Gue tanya, "Apa yang paling susah dari jualan sayur?" Dia jawab panjang lebar soal menghadapi pembeli yang nawar sadis, soal menjaga sayur tetap segar, soal menghitung untung rugi. Jawaban itu jauh lebih hidup daripada jawaban kandidat lain yang bilang "saya suka bekerja dalam tim".
Pelajaran yang Gue Dapat Setelah Bertahun-tahun
Dari pengalaman gagal dan akhirnya bisa masuk ke beberapa perusahaan, ada beberapa hal yang gue rasa penting banget buat kamu yang mungkin tinggal di kota kecil atau desa dan lagi nyari kerja.
- Pengalaman nggak harus bergengsi. Bantu jualan di pasar, ngurus ternak, atau jadi ketua RT muda itu pengalaman. Yang penting kamu bisa cerita apa yang kamu pelajari dari situ.
- Latihan ngomong itu penting. Anak kota sering lebih percaya diri karena terbiasa presentasi di kampus. Kamu juga bisa latihan, kok. Rekam diri sendiri pakai HP, jawab pertanyaan wawancara, lalu tonton ulang. Awalnya cringe, tapi ngebantu banget.
- Jangan bohong soal asal-usul. Kalau ditanya, jawab aja dengan bangga. "Saya dari desa di Kabupaten X" itu bukan aib. Malah sering jadi pembuka obrolan yang menarik.
- Cari tahu soal perusahaan sebelum datang. Ini yang sering dilupakan. Baca website mereka, cari tahu produknya, siapa kliennya. Modal satu jam baca-baca bisa bikin kamu kelihatan jauh lebih siap.
Ada satu hal lagi yang menurut gue paling penting: jangan membandingkan dirimu dengan kandidat lain. Kamu nggak tahu perjalanan mereka. Mungkin mereka lebih pede, tapi belum tentu lebih cocok dengan posisi yang dilamar. Fokus aja ke kekuatanmu sendiri.
Soal Gaji dan Ekspektasi: Jangan Rendah Hati Berlebihan
Ini yang sering gue lihat, terutama di teman-teman dari daerah. Waktu ditanya soal ekspektasi gaji, banyak yang jawab dengan angka yang jauh di bawah pasaran, karena takut dianggap "kemahalan". Padahal, sikap itu justru bisa bikin perekrut ragu. Bukan karena mereka pelit, tapi karena mereka mikir, "Kalau orang ini nggak percaya sama nilai dirinya sendiri, gimana dia bisa dipercaya pegang tanggung jawab?"
Coba cari tahu dulu kisaran gaji untuk posisi itu di kotamu. Tanya teman, cari di grup lowongan, atau tanya langsung ke perekrut dengan sopan. Baru tentukan angka yang masuk akal. Nggak perlu ngotot, tapi juga nggak perlu ngejatuhin diri sendiri.
Gue sendiri pernah ngelewatin satu peluang bagus karena ngasih angka terlalu rendah. Waktu itu gue pikir gue lagi rendah hati. Ternyata gue cuma lagi nggak menghargai diri sendiri. Kapok.
Jadi, Siapa yang Lebih Siap?
Kalau ditanya anak rantau vs anak kampung, lebih siap mana, jawabannya nggak sesederhana itu. Yang bikin seseorang siap di wawancara bukan asal daerahnya, tapi seberapa jujur dia bisa menceritakan pengalamannya sendiri dan seberapa yakin dia sama nilai dirinya.
Gue dulu kalah bukan karena gue anak kampung. Gue kalah karena gue belum bisa melihat bahwa pengalaman gue layak diceritakan. Begitu gue mulai percaya sama hal itu, hasil wawancara gue berubah. Bukan karena gue tiba-tiba jadi orang lain, tapi karena gue akhirnya berhenti minta maaf atas latar belakang gue sendiri.
Kalau kamu sekarang lagi di posisi gue dulu, yang duduk di ruang tunggu sambil ngerasa kecil, dengerin ini: apa yang kamu bawa dari kampungmu itu bukan beban. Itu bahan cerita yang orang kota nggak punya. Tinggal kamu latihan buat menceritakannya dengan baik.
===